Metode Penelitian Bahasa
Oleh: Agoes Hendriyanto
Sudaryanto (1993)
mengemukakan dua metode analisis data dalam penelitian linguistik, yaitu metode
padan dan metode agih. Namun, dalam kesempatan kali ini, penulis dalam makalah
ini hanya akan memaparkan mengenai teknik-teknik metode padan.
Metode dan teknik analisis data dalam penelitian apapun memegang peranan yang sangat penting. Ia tidak saja berfungsi sebagai pengarah jalannya penelitian tetapi lebih sebagai pisau analisis yang akan digunakan dalam “membedah” data dari konteksnya (aspek lain seperti lingkungan fisik atau sosial berkaitan dengan ujaran tertentu). Ia dapat dianalogikan sebagai teknik atau cara memasak suatu masakan. Untuk dapat menghasilkan masakan yang lezat, tidak hanya diperlukan bahan-bahan dasar yang baik tetapi yang lebih penting adalah penguasaan sang chef terhadap cara-cara memasak atau tips-tips memasak yang baik dan benar.
Metode dan teknik analisis data dalam penelitian apapun memegang peranan yang sangat penting. Ia tidak saja berfungsi sebagai pengarah jalannya penelitian tetapi lebih sebagai pisau analisis yang akan digunakan dalam “membedah” data dari konteksnya (aspek lain seperti lingkungan fisik atau sosial berkaitan dengan ujaran tertentu). Ia dapat dianalogikan sebagai teknik atau cara memasak suatu masakan. Untuk dapat menghasilkan masakan yang lezat, tidak hanya diperlukan bahan-bahan dasar yang baik tetapi yang lebih penting adalah penguasaan sang chef terhadap cara-cara memasak atau tips-tips memasak yang baik dan benar.
Pisau apa yang harus digunakan untuk menghasilkan irisan daging yang pipih, atau potongan sayuran. Alat apa yang digunakan untuk menghasilkan bumbu yang halus dan merata, dan bagaimana cara memasak sayuran, yang tentu saja berbeda dengan cara memasak daging atau ikan laut, sebagainya, bagaimana cara menghidangkan masakan tersebut agar tampak lebih menarik sehingga menggugah selera makan.
Peneliti sebagai chef dalam penelitiannya harus pula mengetahui alat dan cara apa yang harus digunakan dalam mengolah data penelitiannya, dan bagaimana cara menyajikan hasil analisisnya itu agar lebih menarik untuk dibaca dan mudah dipahami.
Metode dalam ilmu pengetahuan adalah cara yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditemukan. Sistem merupakan suatu susunan yang berfungsi dan bergerak; ilmu memiliki objek yang dapat dikaji secara sistematis. Metode dan teknik adalah dua istilah yang digunakan untuk menunjukkan dua konsep yang berbeda tetapi berhubungan langsung satu sama lain.
Metode adalah cara yang harus
dilaksanakan; teknik adalah cara melaksanakan metode. Sebagai cara, kejatian
teknik ditentukan adanya oleh alat yang dipakai (Sudaryanto 1993:9).
Metode Padan dan Alat Penentunya
Metode padan adalah metode/cara yang digunakan dalam upaya menemukan kaidah dalam tahap analisis data yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan. Alat penentu yang dimaksud menurut Sudaryanto (1993:15) dapat dikelompokkan atas lima sub jenis yaitu:
a. Alat penentunya ialah
kenyataan yang ditunjuk oleh bahasa atau referent bahasa (metodenya disebut
referensial). Contoh:
Penentuan bahwa nomina (kata benda) itu
adalah kata yang menyatakan benda-benda.
Penentuan bahwa verba (kata kerja) itu
adalah kata yang menyatakan tindakan tertentu.
b. Alat penentunya berupa
organ wicara (nama metodenya fonetis artikulatoris). Contoh:
Penentuan bahwa vokal adalah bunyi yang
dihasilkan tanpa penghalang kecuali pada pita suara.
Penentuan bahwa kalimat adalah
serentetan bunyi yang diakhiri oleh kesenyapan karena tiadanya lagi kerja organ
wicara.
c. Alat penentunya langue
lain (metodenya bernama translasional). Contoh:
Penentuan bahwa verba (kata kerja) dalam
bahasa Indonesia ialah kata yang dalam bahasa Inggris, Prancis, atau
bahasa Indo-Eropa lainnya dikonjungsikan.
Penentuan bahwa kata depan atau
preposisi di bahasa Indonesia ialah kata yang dalam bahasa Jawa adalah ing.
d. Alat penentunya
perekam dan pengawet bahasa, yaitu tulisan (nama metodenya ortografis). Contoh:
Penentuan bahwa kalimat adalah satuan
lingual yang dalam bentuk tulisan diawali dengan huruf kapital dan diakhiri
dengan tanda titik.
Penentuan bahwa kata adalah satuan
lingual yang dalam bentuk tulisan diawali dan diakhiri dengan spasi.
Alat penentunya mitra wicara (metodenya
bernama pragmatis). Contoh:
Penentuan bahwa
kalimat perintah adalah kalimat yang bila diucapkan menimbulkan reaksi tindakan
tertentu dari mitra wicaranya. Penentuan bahwa kata afektif adalah
kata yang bila diucapkan akan menimbulkan akibat emosional tertentu pada mitra
wicaranya. Referent atau apa yang dibicarakan, organ wicara beserta
bagian-bagiannya, tulisan, dan orang yang menjadi lawan bicara, jelas semuanya
bukan bahasa.
Sedangkan langue lain juga bukan termasuk bahasa, dalam hal ini bukan merupakan bahasa yang sedang menjadi objek sasaran penelitian, yang kejatian atau identitasnya ditentukan berdasarkan tingginya kadar kesepadanannya, keselarasannya, kesesuaiannya, kecocokannya, atau kesamaannya dengan alat penentu yang bersangkutan yang sekaligus menjadi standar atau pembakunya. Oleh sebab itu, metode yang menggunakan semua alat penentu itu disebut dengan “metode padan”.
Sedangkan langue lain juga bukan termasuk bahasa, dalam hal ini bukan merupakan bahasa yang sedang menjadi objek sasaran penelitian, yang kejatian atau identitasnya ditentukan berdasarkan tingginya kadar kesepadanannya, keselarasannya, kesesuaiannya, kecocokannya, atau kesamaannya dengan alat penentu yang bersangkutan yang sekaligus menjadi standar atau pembakunya. Oleh sebab itu, metode yang menggunakan semua alat penentu itu disebut dengan “metode padan”.
Teknik Metode Padan
Teknik Dasar : Teknik Pilah Unsur Penentu
Berdasarkan tahap
penggunaannya, teknik dalam metode padan dibedakan menjadi dua, yaitu teknik
dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum
teknik lanjutan. Teknik dasar yang dimaksud disebut teknik pilah unsur penentu
(teknik PUP) yang alatnya berupa daya pilah yang bersifat mental yang dimiliki
oleh penelitinya. Daya pilah sesuai dengan jenis penentu yang akan
dipisah-pisahkan menjadi berbagai unsur itu maka disebut daya pilah
referensial, daya pilah ortografis, dan daya pilah pragmatis.
Daya pilah dipandang sebagai alat, sedangkan penggunaan alat yang bersangkutan dipandang sebagai tekniknya.
Berkaitan dengan bahasa, sejauh mana misalnya bunyi bahasa tertentu itu memiliki kejatian tersendiri yang berbeda dengan kejatian bunyi bahasa yang lain, hal itu bergantung pada sifat atau watak bunyi bahasa itu masing-masing. Berikut ini adalah penggunaan daya pilah pada metode padan !
a) Daya Pilah
sebagai Pembeda Referen
Untuk membagi satuan lingual , maka perbedaan referen atau sosok teracu
yang ditunjuk oleh satuan lingual tersebut harus diketahui lebih dahulu, dan
untuk mengetahui perbedaan referen itu maka daya pilah yang bersifat mental
dari peneliti harus digunakan. Contoh : dalam membagi satuan lingual berupa
kata, dengan daya pilah, dapat diketahui bahwa referen itu ada yang berupa
benda, kerja, sifat, dsb.
b) Daya Pilah
sebagai Pembeda Organ Wicara
Dalam kaitannya dengan pembentukan satuan lingual tertentu, misalnya bunyi,
kata, kalimat, dll, akan kelihatan bahwa organ wicara dapat berbeda-beda dalam
mengaktifkan bagian-bagiannya. Contoh : pembentukan satuan lingual berupa
bunyi, daya pilah dalam hal pembeda organ wicara dapat berupa bunyi vokal,
bunyi konsonan, dsb.
c) Daya Pilah
sebagai Pembeda Larik Tulisan
Dalam kaitannya dengan penulisan satuan lingual tertentu, penggunaan daya
pilah dari seorang peneliti sangat dibutuhkan untuk membedakannya dengan satuan
lingual lainnya. Contoh : penulisan kata, kalimat, paragraf, dsb.
d) Daya Pilah
sebagai Pembeda Reaksi dan Kadar Keterdengaran
Dalam kaitannya dengan mitra wicara, dapat dibedakan pula adanya reaksi
yang bermacam-macam di samping juga dengan kadar keterdengarannya. Contoh :
daya pilah dalam hal reaksi, bertindak menuruti atau menentang apa yang
diucapkan oleh si pembicara termasuk dalam kalimat perintah. Dan daya pilah
dalam hal kadar keterdengaran, terdengar melengking tinggi atau biasa termasuk
dalam kalimat seru.
e) Daya Pilah
sebagai Pembeda Sifat dan Watak Aneka Langue
Dalam kaitannya dengan langue yang lain, misalnya bahasa Inggris, ada unsur
atau satuan lingual yang mengalami perubahan bentuk dan selalu mengandung
bagian -ly, ness, the, dan sebagainya. Itu semua dapat diketahui berkat daya
pilah yang digunakan oleh si peneliti. Berdasarkan hal itu, satuan lingual
bahasa Indonesia, misalnya, dapat dibedakan menjadi nomina (yang dalam bahasa
Inggris dapat diberi the), verba (yang dalam bahasa Inggris dapat diubah bentuk
secara konjugatif), adverbia (yang dalam bahasa Inggris mengandung -ly), dll.
Sering dalam menggunakan daya pilah si peneliti dibantu oleh alat lain yang berada diluar dirinya sendiri tetapi “melekat” pada unsur penentu yang sifatnya khas, misalnya perbedaan bentuk huruf (tulisan), perbedaan bentuk mulut (organ wicara), dsb. Dalam menentukan satuan lingual tersebut, satuan lingual yang bersangkutan benar-benar disesuaikan, diselelaraskan, dicocokan, disamakan, atau disepadankan dengan identitas atau kejatian unsur penentunya. Jadi, terdapat hubungan padan antara unsur penentu dengan unsur yang ditentukan.
Sering dalam menggunakan daya pilah si peneliti dibantu oleh alat lain yang berada diluar dirinya sendiri tetapi “melekat” pada unsur penentu yang sifatnya khas, misalnya perbedaan bentuk huruf (tulisan), perbedaan bentuk mulut (organ wicara), dsb. Dalam menentukan satuan lingual tersebut, satuan lingual yang bersangkutan benar-benar disesuaikan, diselelaraskan, dicocokan, disamakan, atau disepadankan dengan identitas atau kejatian unsur penentunya. Jadi, terdapat hubungan padan antara unsur penentu dengan unsur yang ditentukan.
Teknik Lanjutan: Teknik HBS, Teknik HBB, dan Teknik HBSP
Dalam praktek penelitian yang sesungguhnya, hubungan padan itu berupa hubungan banding antara semua unsur penentu yang relevan dengan semua unsur data yang ditentukan. Dengan kata lain, mencari semua persamaan (teknik hubung banding menyamakan/HBS, alatnya daya banding menyamakan) dan perbedaan (teknik hubung banding membedakan/HBB, alatnya daya banding membedakan) semua unsur tersebut untuk kemudian mencari persamaan pokoknya (teknik hubung banding menyamakan hal pokok/HBSP, alatnya daya banding menyamakan hal pokok).
Pengertian “Alat” : Alat Penentu dan Alat Penggerak bagi Alat Penentu
Di samping alat yang berupa daya mental, dilihat dari sudut pandang penelitian itu sendiri, setiap unsur yang menjadi standar banding atau pembaku (referen, organ wicara, langue lain, tulisan, dan mitra wicara) dipandang sebagai alatnya pula. Maka dalam hal ini dapat dikatakan bahwa pembaku tersebut merupakan alat penentu (yang menentukan) identitas objek sasaran penelitian (yang berupa satuan lingual), sedangkan daya banding yang bersifat mental tersebut merupakan alat penggerak bagi pembaku.
Demi kukuhnya pemilahan konsep, maka alat penggerak bagi alat penentu disebut dengan istilah piranti sedangkan alat penentu disebut dengan istilah alat. Jadi, daya-daya mental yang dimaksud adalah piranti yang memungkinkan alat (penentu) tertentu dapat digunakan.
Di samping alat yang berupa daya mental, dilihat dari sudut pandang penelitian itu sendiri, setiap unsur yang menjadi standar banding atau pembaku (referen, organ wicara, langue lain, tulisan, dan mitra wicara) dipandang sebagai alatnya pula. Maka dalam hal ini dapat dikatakan bahwa pembaku tersebut merupakan alat penentu (yang menentukan) identitas objek sasaran penelitian (yang berupa satuan lingual), sedangkan daya banding yang bersifat mental tersebut merupakan alat penggerak bagi pembaku.
Demi kukuhnya pemilahan konsep, maka alat penggerak bagi alat penentu disebut dengan istilah piranti sedangkan alat penentu disebut dengan istilah alat. Jadi, daya-daya mental yang dimaksud adalah piranti yang memungkinkan alat (penentu) tertentu dapat digunakan.
Untuk menganalisis data penelitian sinkronis, penulis mengajurkan untuk menggunakan metode padan intralingual dan metode padan ekstralingual. Yang dimaksud penulis dengan metode padan intralingual adalah metode analisis dengan cara menghubung-bandingkan unsur-unsur yang bersifat lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun yang terdapat dalam beberapa bahasa yang berbeda. Sebaliknya, jika peneliti menghubung-bandingkan masalah bahasa dengan hal di luar bahasa peneliti menggunakan metode padan ekstralingual.
Simpulan
Metode padan akan dapat digunakan dengan baik apabila telah menguasai seluk-beluk penentu, dan itu tidaklah mudah. Dibutuhkan ilmu-ilmu yang mendasar mengenai hal itu seperti ilmu yang objek penelitiannya isi tuturan manusia (referen); fisiologi mulut dan bagian-bagiannya (organ wicara); ortografi, grafologi, dan paleografi (tulisan); linguistik mengenai bahasa (langue lain); serta psikologi, fonetik, auditif, dan pragmatik (mitra wicara).
Teknik dasar penelitian tidak mengenai data penelitian melainkan alat pembantu analisis, karena setelah dia mempercayai adanya antar-hubungan data lingual tempat objek penelitiannya dengan sesuatu yang lain, yaitu kenyataan di luarnya, yaitu seluk-beluk kenyataan yang lain yang dapat digunakan secara tepat sebagai pembaku pembandingan atau standar pemadanan atau alat ukur penentu identitas objek sasaran yang sedang dianalisis.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta :
Duta Wacana University Press.

Komentar
Posting Komentar